“KELUARGA”
PENDAHULUAN
Tampaknya ada semacam kebingungan
dan perasaan frustrasi pada kebanyakan keluarga dalam hal mendidik anak pada
saat ini. Keresahan ini membuat banyak
keluarga mengalami keretakan atau kekurangharmonisan. Salah satu penyebab kekacauan dalam hal mendidik
anak adalah karena terjadinya perubahan dalam struktur dan pola hubungan antar
anggota keluarga. Beberapa tahun silam, sebagian besar anak hidup dalam
keluarga yang merupakan “keluarga luas” (extended family). Satu tempat tinggal sekaligus didiami oleh
kakek-nenek, ayah-ibu, anak-anak, bahkan juga paman-bibi dan saudara
sepupu. Perhatian dan intensitas
hubungan sosial yang diperoleh anak-anak tersebut relatif lebih banyak
dibanding tahuntahun belakangan ini.
Berbeda dengan keadaan saat ini.
Kebanyakan keluarga di perkotaan masa kini sudah merupakan “keluarga
inti” (nuclear family) yang hanya terdiri dari ayah-ibu dan anak-anak. Bila
dalam “keluarga luas” perawatan bayi dan anak-anak memperoleh perhatian dan
dukungan dari banyak orang, tidak demikian halnya dengan “keluarga inti.” Dalam keluarga inti, orangtua memperoleh
bagian tugas merawat dan mendidik anak yang jauh lebih berat dari pada orangtua
beberapa tahun silam. Hal ini karena
orangtua sekarang tidak memperoleh bantuan dari anggota keluarga yang lain. Banyak
hal yang sederhana, seperti misalnya bercerita untuk anak, sulit dilakukan oleh
ibu atau ayah zaman sekarang. Ayah-ibu
sekarang terlalu lelah karena tenaganya terkuras untuk rutinitas pekerjaan yang
seolah tiada habisnya. Padahal
tersedianya waktu untuk bercerita sangat penting artinya untuk menyampaikan
pengajaran moral (bahkan juga iman) secara natural dan efektif.
Perubahan lain adalah dunia kerja
yang saat ini menuntut jauh lebih banyak waktu dari pekerjanya. Kita tidak akan heran melihat seorang ayah
sibuk bekerja, yang hanya pulang untuk tidur dan jarang bertatap muka dengan
anak-anaknya. Hal ini serupa dengan yang
telah terjadi di dunia Barat. Urie
Bronfenbrenner menuliskan sebuah hasil penelitian mengenai seberapa lama para
ayah dari kelas sosial-ekonomi menengah.Jurnal Teologi dan Pelayanan meluangkan
waktu bermain dan berinteraksi dengan anak-anak balita mereka dalam sebuah
artikel yang berjudul “The Origins of Alienation” dalam Scientific American
edisi Agustus 1974. Mula-mula para
peneliti meminta sekelompok ayah untuk memperkirakan waktu yang diluangkan bagi
anak-anak mereka yang berusia setahun setiap harinya. Para peneliti memperoleh jawaban bahwa
rata-rata para ayah menghabiskan waktu 15 hingga 20 menit seharinya. Untuk menguji pernyataan mereka, peneliti menempelkan
mikrofon di baju anak-anak tersebut.
Pembicaraan dari para ayah dengan anaknya tersebut kemudian
direkam. Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata waktu yang digunakan para ayah
tersebut untuk berinteraksi dengan anaknya hanya sekitar 37 detik setiap
harinya! Interaksi mereka secara langsung adalah sebanyak 2,7 kali. Berarti setiap kali interaksi hanya
berlangsung sekitar 10 hingga 15 detik.[1]
James
Dobson menyebut kondisi semacam ini dengan istilah rat-race.[2]Hal
ini terlihat pada kesibukan manusia setiap hari dengan segala kewajiban mulai
dari membayar rekening telepon, air, listrik, kartu kredit, juga merawat tubuh,
olah raga, baca koran, nonton televisi, menelepon teman, membetulkan rumah dan
kendaraan pribadi, belanja, mempersiapkan pelayanan, ikut dalam kegiatan
sosial, dan seterusnya.[3] Ayah
juga semakin tidak mudah menjalankan fungsinya mendidik anak karena saat ini semakin
banyak isteri yang bekerja. Isteri yang
berkarir di luar rumah membuat mereka semakin mandiri dan tidak perlu terlalu banyak
bergantung pada suami. Anak yang melihat
ibunya berfungsi penuh tanpa keterlibatan ayah akan memandang ayahnya sebagai
ayah yang lemah dan kurang berharga.
Akibatnya, ayah semakin kehilangan wibawa dan penghargaan di mata
anak-anaknya. Selanjutnya ayah yang tidak
dihargai merasa makin tidak betah berada di rumah sendiri dan menenggelamkan
dirinya dalam dunia kerja. Keadaan ini
diperburuk bila ibu tidak menghargai ayah karena ibu merasa lebih terampil dan lebih
pandai mencari uang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ketidakharmonisan
dalam hidup pernikahan membuat para ayah menjauhkan diri dari anakanaknya. Hubungan
ayah dengan putrinya sangat rentan terhadap pertengkaran antara ayah dan
ibu. Dampak yang lebih jauh adalah bahwa
anak laki-laki mempunyai kemungkinan lebih besar mencontoh gaya pemecahan
masalah secara agresif dari ayahnya.Perempuan akan mencontoh ketegangan dan
kesedihan ibunya.[4]
Pada masa kini ketidakharmonisan dalam pernikahan lebih banyak terjadi akibat
semakin besarnya keberanian para wanita untuk menyatakan ketidaksetujuan atau
pertentangan pendapat dengan suaminya.
Hal ini menambah daftar kesulitan para ayah menjalankan perannya. Namun
saya kira ancaman yang paling serius terhadap peran ayah dalam mendidik anak
adalah pandangan yang hidup subur di masyarakat, bahwa ibulah yang bertugas
untuk mendidik anak. Segala tugas yang menyangkut
anak--termasuk masalah akademik dan perilaku moralistik--adalah urusan dan
tanggung jawab ibu. Maka bila ada masalah
dengan anak yang selalu disalahkan adalah pihak ibu. Pandangan semacam ini
lebih banyak dimiliki pria dibanding wanita. Repotnya, tatkala seorang ibu menuntut
lebih banyak keterlibatan dari pihak ayah, para ayah bersikukuh dengan
pendapatnya bahwa ibulah yang seharusnya bertanggung jawab atas pendidikan
anak.Situasi semacam ini menyebabkan banyak anak telantar atau bahkan
tercabikcabik di tengah keadaan saling menyalahkan di antara kedua orangtua. Berbagai
faktor di atas membuat peran ayah dalam kehidupan anaknya saat ini menjadi
tidak jelas dan lebih berat dibanding dengan masa sebelum ini.Dan Problema ini
masih terjadi dalam keluarga Kristen saat ini atau warga gereja saat ini.
A.
Masalah
yang sedang di hadapi atau di gumuli oleh gereja :
ü Keengganan
ayah mengambil tanggung jawab Keayahan
Pengamatan terhadap
keluarga-keluarga di Indonesia umumnya memberikan petunjuk yang jelas bahwa
tugas mendidik anak dan perawatan menjadi urusan ibu. Majalah maupun buku yang membahas mengenai
mendidik anak sebagian besar ditujukan pada kaum ibu. Bahkan secara ilmiah
akademis pun ayah tidak masuk hitungan dalam pengasuhan anak, terbukti dari
sangat sedikitnya kajian ilmiah atau penelitian yang membahas mengenai peran
ayah dalam pengasuhan anak. [5]
Sebagai gambaran mengenai kecilnya
perhatian terhadap peran ayah dalam keluarga dapat dikutip di sini hasil dari
suatu survai kecil yang cukup menarik yang pernah diadakan oleh Majalah Ayah bunda[6] sebagai
berikut: 61 % responden menyatakan bahwa ayah sebaiknya menjadi pencari nafkah
utama. 62 % responden menyatakan bahwa ayah hanya terlibat dalam urusan rumah
tangga kalau terpaksa 33 % responden menyatakan bahwa ayah tidak perlu
meluangkan waktu tiap hari untuk anak Perhatian dan waktu yang sangat kurang
dari para ayah menunjukkan bahwa betapa ayah sekarang ini telah kehilangan
perannya secara signifikan dalam mendidik anak. Pada dasarnya pekerjaan
mendidik anak adalah pekerjaan yang kurang memberikan ganjaran positif
(rewarding) karena hasilnya tidak dapat dinikmati secara langsung. Mendidik anak juga melelahkan, makan waktu
dan tidak mendatangkan keuntungan finansial. Selain itu, mendidik anak juga
jauh dari publikasi dan kemahsyuran.
Tidaklah heran bahwa para ayah umumnya akan menghindar dari pekerjaan
ini. Bila dirunut ke belakang, kebanyakan pria yang saat ini menjadi ayah memiliki
konsep mengenai mendidik anak yang tertanam sejak mereka kecil. Konsep ini antara lain diperoleh dari cara
anggota keluarga memperlakukan ayah dan bagaimana ayah meminta anggota keluarga
memperlakukan dirinya. Ayah umumnya
bertanggung jawab di luar rumah untuk mencari nafkah. Sebaliknya, ayah akan diperlakukan istimewa
dan dilayani oleh isteri serta anak-anak di rumah. Perkataan dan perintah ayah tidak boleh
banyak diganggu-gugat.
Dalam buku Arief Budiman menyatakan
bahwa laki-laki di Indonesia umumnya bekerja di sektor publik dan wanita di sector
domestik.[7] Hal
ini berarti bahwa pekerjaan rumah tangga termasuk mendidik anak, bagi sebagian
besar keluarga di Indonesia dibebankan pada pundak ibu. Menurut Arief, pembagian kerja semacam ini
tidaklah adil karena hanya menguntungkan pria.
Wanita terpaksa harus menerima pekerjaan yang tidak mendatangkan
keuntungan materi. Kalau pun harus bekerja,
wanita harus puas dengan gaji yang lebih kecil dan jabatan yang umumnya lebih
rendah dibanding pria. Karena itu,
secara konsisten Arief menyarankan agar wanita lebih banyak bekerja di luar
rumah untuk mendatangkan upah, sedangkan pria harus lebih banyak membantu pekerjaan
di dalam rumah tangga. Saya kurang
setuju dengan saran Arief Budiman bahwa wanita harus lebih banyak bekerja di
luar rumah untuk mendapat upah.
Sekalipun demikian, saya sangat setuju dengan saran agar pria harus
lebih banyak membantu pekerjaan di dalam rumah tangga.[8] Lalu
di manakah sesungguhnya peran ayah dalam mendidik anak? Sebelum membahas
pertanyaan tersebut, sebaiknya kita simak dahulu. beberapa hasil penelitian mengenai dampak
kurangnya peran ayah pada diri anak-anaknya.
ü Kekaburan
Peran Ayah Dan Dampaknya Terhadap Anak
Ayah yang kurang
berperan dalam menjalankan fungsi keayahannya akan membawa berbagai dampak yang
buruk bagi anak-anaknya. Berbagai dampak buruk yang mungkin terjadi di gereja
atau keluarga kristen akibat tidak berfungsinya ayah antara lain adalah sebagai
berikut: Pertama, Dampak terhadap Identitas dan Peran Seksual Anak. Absennya ayah dalam kehidupan anak akan
membawa berbagai dampak yang cukup berarti bagi perkembangan seksual maupun
identitas seksual anak.Pada anak laki-laki, hubungan yang sangat dekat dengan
ibu dikombinasikan dengan hubungan yang renggang dengan ayah akan menyebabkan
terjadinya gangguan identitas gender.[9]
Bila ditelusuri, kurangnya model kepriaan, sebagaimana yang terjadi bila ayah
jarang hadir dalam kehidupan anak, akan membuat identifikasi anak laki-laki
lebih kuat kepada figur kewanitaan. Hal
ini dinyatakan antara lain oleh Peggy T. Kettenis dkk.[10]
Sebagai tambahan, anak yang menderita transeksualisme lebih banyak yang
memiliki ayah yang menolak dan kurang peduli secara emosional serta ibu yang
sangat memperhatikan, terlalu terlibat dan terlalu melindungi anaknya tersebut.[11] Berbagai
penelitian menunjukkan hal yang sama, yakni bahwa anak laki-laki yang mengalami
masalah dalam identitas jenis kelaminnya lebih banyak memiliki ayah yang kurang
peduli dan tidak ambil bagian dalam mengasuh anak tersebut bila dibandingkan
dengan anak laki-laki yang tidak memiliki masalah dalam hal yang sama.[12]
Dalam hal perilaku seksual, absennya
ayah akan cenderung membuat anak laki-laki mencari laki-laki lain sebagai
pasangan seksualnya. Di lain pihak, anak
perempuan tanpa kehadiran ayah mengembangkan kebutuhan yang luar biasa akan
penegasan pria akan keberadaan dirinya. Sedemikian besar kebutuhan anak
perempuan ini sehingga ia cenderung melemparkan dirinya pada laki-laki. Selain itu anak perempuan mungkin akan
melakukan aktivitas seksual dengan banyak pasangan (promiskuitas).[13]
Absennya ayah atau ketidakpedulian ayah
terhadap anak perempuannya dapat membawa akibat buruk yang bahkan lebih serius dibanding
perceraian. Sebuah survai menunjukkan
bahwa sebagian terbesar dari wanita tuna susila berasal dari keluarga tanpa
ayah. Kondisi latar belakang keluarga
yang tanpa kehadiran ayah juga terjadi pada sebagian besar pelaku kriminal
wanita. Selain itu sejumlah besar penelitian menunjukkan bahwa lesbianisme
muncul dari keluarga tanpa kasih seorang ayah.[14]
Kedua, Dampak Gangguan Psikologis Pada Anak di
Masa Dewasa Mereka. Penelitian
menunjukkan bahwa ketiadaan peran ayah membuat anak menderita banyak kemurungan
di kemudian hari.[15] Selain
itu anak dari latar belakang yang sama juga acapkali terlibat dalam tujuh
masalah utama, yakni (1) identitas yang tidak lengkap, (2) ketakutan yang tidak
teratasi, (3) kemarahan yang tidak terkendali, (4) depresi yang tidak terdiagnosa,
(5) perjuangan melawan perasaan kesepian, (6) kesalahpahaman seksualitas, dan
(7) kegagalan dalam hal keterampilan pemecahan masalah.[16]
Carl Wilson melukiskan bahaya yang
mungkin terjadi akibat kekaburan peran gender pada kemerosotan kebudayaan
dengan cara yang menarik. Berikut ini
kutipannya: “Pola yang sama terjadi di Yunani kuno, Republik Romawi dan di Amerika:
1. Pria berhenti memimpin
keluarganya untuk berbakti. Perkembangan
rohani dan moralitas dinomorduakan.
Pandangan mereka akan Tuhan menjadi lebih naturalistik, matematis dan
mekanis.
2. Pria secara egois mengabaikan
pemeliharaan terhadap isteri dan anak-anak demi memperoleh kesejahteraan
materi, kekuasaan politik dan militer dan perkembangan budaya.Nilai-nilai
materi mulai mendominasi pemikiran dan ia mulai mengagungkan perannya sebagai
individu.
3. Pria yang telah terokupasi dengan
urusan perang, mengabaikan isterinya secara seksual atau menjadi terlibat
dengan wanita dari kelas yang lebih rendah atau terlibat dengan homoseksualitas
dan berkembanglah moralitas yang mempunyai standar ganda.
4. Peran wanita di rumah dan dalam
hubungannya dengan anak-anak kehilangan nilai dan statusnya. Wanita yang terabaikan dan perannya
direndahkan, memberontak untuk memperoleh kesejahteraan material dan juga
kebebasan seks di luar pernikahan. Wanita mulai meminimalisasi hubungan seks
untuk mengandung dan lebih menekankan seks sebagai kenikmatan. Hukum yang mengatur pernikahan membuat
perceraian menjadi mudah.
5. Suami dan isteri bersaing satu dengan yang
lain untuk memperoleh uang, kepemimpinan dalam keluarga, dan kasih dari
anak-anaknya, yang mengakibatkan permusuhan dan frustrasi dan kemungkinan homoseksualitas
pada anak-anaknya. Banyak pernikahan
yang berakhir dengan perpisahan dan perceraian.
Banyak anak tidak diinginkan, diaborsi, ditolak, dianiaya dan tidak
didisiplin. Makin anak tidak disiplin,
makin besar pula tekanan sosial untuk tidak memiliki anak. Perpecahan dalam keluarga menghasilkan
anarki.
6. Individualisme yang egois
berkembang dan dibawa ke dalam masyarakat, memecah masyarakat menjadi loyalitas
kelompok yang semakin kecil dan semakin kecil pula. Dengan demikian bangsa diperlemah oleh
konflik internal. Penurunan tingkat
kelahiran menghasilkan populasi usia tua yang kurang memiliki kemampuan dan
kemauan untuk mempertahankan dirinya, membuat bangsa itu rentan terhadap lawan-lawannya.
7. Ketika ketidakpercayaan terhadap
Allah semakin lengkap dan otoritas orangtua memudar, prinsip moral dan etika
menghilang, semua itu akan berpengaruh pada ekonomi dan pemerintahan.[17]
Dengan demikian, kelemahan internal
akan melahirkan perpecahan dalam masyarakat.
Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan mereka kecuali oleh seorang
diktator yang muncul dari dalam atau diinvasi dari luar.” Sekalipun pendapat
Wilson di atas masih perlu dikaji secara kritis, peringatan-peringatan dan
analisisnya perlu disimak dan tetap relevan bagi kita. Dampak sosial dari ketidakhadiran ayah dalam
kehidupan anak cukup menggetarkan hati, karena kerusakan yang ditimbulkannya cenderung
membesar dan meluas dari generasi ke generasi.
B.
Cara mengatasinya atau Bagaimanakah peran ayah
yang diharapkan?
Bagaimanakah seharusnya peran ayah
dalam mendidik anak? Menurut J. Verkuyl peran seorang ayah pada tahun-tahun pertama dalam kehidupan anak adalah membantu ibu
memberikan perawatan. Namun setelah
itu ayah menjadi kepala keluarga yang
berwibawa dan mempertahankan serta melindungi kehidupan keluarga.[18] Fungsi
seorang ayah adalah hidup dan bekerja
pada perbatasan antara keluarga dan masyarakat, antara “dalam” dan “luar.” Ayah memperkenalkan dan membimbing
anak-anaknya untuk mengarungi dunia luar atau kehidupan bermasyarakat.[19] Tentang
nafkah keluarga,Verkuyl berpendapat bahwa ayahlah yang mengumpulkan hasil
kerjanya ke dalam keluarga, sedangkan ibu membagi-bagikan hasil itu menurut keperluan
masing-masing anggota keluarganya.[20]
Richard C. Halverson berpendapat bahwa
ayah bertanggung jawab atas tiga tugas utama.
Pertama, ayah haruslah mengajar anaknya tentang Tuhan (Ul 6) dan
mendidik anaknya dalam ajaran dan nasehat Tuhan (Ef 6:4). Kedua, seorang ayah haruslah mengambil peran
sebagai pimpinan dalam keluarganya.
Ketiga, ayah haruslah bertanggung jawab atas disiplin. Dengan demikian ia menjadi seorang figur.[21]
Bila kita membaca kisah imam Eli
(1Sam 2:11-36), tampak jelas bahwa Eli gagal dalam ketiga tanggung jawab utama
sebagaimana yang dikemukakan oleh Halverson.
Ia gagal mengajarkan rasa takut akan Tuhan serta tidak mampu menegakkan
disiplin dan kepemimpinan dalam keluarga.
Ia justru takut kepada anak-anaknya, melebihi rasa takutnya kepada
Tuhan. Hal ini membangkitkan murka Allah
atas dirinya.
C.
Proses pembinaannya:
Jelaslah bahwa seorang ayah
mempunyai tanggung jawab penuh untuk mendidik atau membina anak-anaknya, bahkan juga memimpin dan memberi arah bagi
seluruh keluarga. Hal ini berbeda
dengan pandangan budaya yang lebih banyak membebankan tugas mendidik anak pada
ibu. Masalah moralitas dan perilaku anak
seharusnya menjadi tanggung jawab ayah. Berbagai masalah dan hambatan siap
menghadang tugas ayah dalam mendidik anaknya.
Di antaranya adalah kurangnya kesempatan bagi ayah untuk hadir dalam
kehidupan pribadi anaknya. Tiada lain seorang ayah yang hidup dalam
zaman ini memerlukan komitmen ekstra kuat untuk menyediakan waktu bagi
anak-anaknya. Tugas mendidik adalah tugas
yang menuntut pengabdian waktu, tenaga dan pikiran. Karena itu, ayah perlu sekali memasukkan
tugas mendidik anak dalam jadwal kerja utama setiap hari. Ayah perlu mengenal dengan baik setiap
anaknya dan menggunakan waktu lebih banyak untuk belajar mendidik anak. Jangan pula dilupakan bahwa
mendidik anak merupakan salah satu bentuk pengabdian dan ketaatan pada perintah
Tuhan.
Seorang suami dalam melaksanakan tugas dan
fungsi keayahan sangatlah memerlukan dukungan dari pihak isteri. Kerelaan isteri untuk menundukkan diri pada
pimpinan suami membantu anak menaati dan menghormati ayahnya. Rasa
hormat seorang isteri memudahkan suami menegakkan disiplin dan menjadi figur
otorita bagi anak-anaknya. Akhirnya, seorang ayah dalam melakukan tugasnya
perlu selalu menyadari bahwa tujuan utama mendidik anak bukanlah demi kepentingan pribadi sang ayah. Tujuan akhir pendidikan anak adalah menghadirkan
Allah dan perintah-Nya dalam kehidupan pribadi sang anak.
Interaction,”
Developmental Psychology 29/6 (1993) 931-932.
[9] Seseorang dikatakan
menderita gangguan identitas gender bila ia dilahirkan sesuai dengan keadaan
biologis yang normal, namun ia sendiri merasa memiliki jiwa yang berlawanan
dengan jenis kelamin biologisnya saat ini.
Akibatnya, sebagian penderita berusaha menghilangkan tanda-tanda kelamin
yang asli dan bertindak sebagai lawan jenisnya; sebagian lagi sampai melakukan
operasi kelamin.
[10]“Parental
Factors and Transsexualism” dalam Parenting and Psychopathology (eds. Carlo
Perris, Willem A. Arrindell and Martin Eisemann; Chichester: John Wiley &
Sons, 1994) 268-269.
[16] Gary
J. Oliver, “Are You Man Enough?,” Christian Counseling Today 3 (Winter 1995)
17-19.Peran Ayah dalam Mendidik Anak 111